Oleh: Riza Dwi Nur Annisa
Beberapa waktu lalu dilakukan razia Handphone (HP) yang cukup menghebohkan MAN 1 Wates. Bagaimana tidak, razia yang berlangsung mendadak selepas upacara bendera berlangsung serempak dan menyeluruh. Ratusan HP diperiksa oleh guru sepanjang hari itu. Hasilnya, banyak siswa yang terbukti memiliki konten-konten yang dilarang di HP mereka. Orang tua siswa pun diundang ke sekolah untuk menyelesaikan kasus HP anaknya yang bermasalah. Sedangkan siswa yang HP nya “bersih” bisa bernafas lega. Bersih bisa berarti sudah sempat dihapus atau malah ditinggal di rumah, dasar anak muda.
Kebijakan sekolah untuk menertibkan siswa tidak hanya tentang HP. Mulai dari penampilan yang harus mencerminkan keterpelajaran mereka hingga hal-hal lain yang bahkan mungkin dinilai sebagai ranah privat siswa. Mengapa sekolah sampai sejauh ini melangkah, tidak lain untuk menjaga akhlaq siswa. Hal ini merupakan bentuk pertanggungjawaban sekolah kepada orang tua siswa yang menitipkan anaknya menempuh pendidikan di sekolah kita tercinta ini. Dengan adanya razia semacam ini, dapat diketahui moralitas siswa dalam menggunakan HP. Konten triple-x yang mengancam perkembangan akhlaq siswa terbukti ada pada HP yang bermasalah. Hal ini mengundang keprihatinan sekaligus pemakluman bahwa siswa sekarang memang dihadapkan pada tantangan akhlaq yang sangat berat.
Privasi, apapun alasannya sebenarnya tidak boleh dilanggar. Seseorang yang privasinya dilanggar akan merasa tidak nyaman dan terbelenggu. Begitu pula sebenarnya kebijakan razia HP. Hal ini bahkan bisa menjadi kebijakan yang kontraproduktif bagi perkembangan siswa. Sekolah dengan terang-terangan mencoba masuk ke wilayah privat kehidupan siswa, salah satunya dengan razia HP. Bayangkan, berapa banyak hal yang semula menjadi rahasia kini diketahui oleh pihak sekolah. Sekolah seakan mempunyai kewenangan untuk mengaduk-aduk urusan pribadi siswa.
Kebijakan pembinaan akhlaq dan privasi siswa menjadi dua hal yang kontradiktif bagi sekolah. Di satu sisi sekolah ingin menegakkan akhlaq terpuji dan membina siswa. Di sisi lain sekolah berhadapan pada kenyataan bahwa HP telah menjadi barang yang amat pribadi. HP hanyalah salah satu hal yang bisa dijadikan parameter akhlaq siswa. Namun, penggunaannya yang berkembang luas akhir-akhir ini menjadikan HP sebagai komoditas yang tak terpisahkan dari kehidupan siswa. Hal ini yang menjadi alasan sekolah untuk melakukan investigasi terhadap moralitas siswa dalam menggunakan HP, yang dianggap berkorelasi dengan akhlaq siswa pada umumnya. Hasil dari investigasi ini menjadi input sekolah untuk merumuskan kebijakan lanjutan. Salah satunya adalah pemanggilan orang tua siswa yang bermasalah dan pembinaan terhadap siswa tersebut.
Jawaban yang dapat diberikan untuk memantabkan langkah pembinaan akhlaq adalah siswa belum bisa dianggap sebagai individu dewasa. Sehingga dalam perkembangannya sekolah berhak mengintervensi demi kebaikan siswa. Hal yang sama dapat dilakukan orang tua demi kebaikan anaknya. Privasi siswa dapat sedikit diabaikan demi perkembangan akhlaq yang baik. Sekolah telah mendapat amanah untuk mendidik siswa, sehingga wajar jika sekolah dapat memaksakan kehendak untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Siswa rata-rata belum mampu berpikir kritis dan dewasa dalam menyikapi segala hal yang ada di kehidupan. Hal ini dapat menjadi celah yang dapat menjerumuskan siswa ke dalam keburukan.
Namun, sekolah seyogyanya tidak memojokkan siswa dengan masalah yang dialaminya. Hal yang menjadi rahasia siswa tidak boleh sampai menjadi konsumsi publik. Perlu ditekankan, bahwa siswa yang bermasalah bukanlah terdakwa yang terus dipersalahkan. Cap siswa bermasalah hanya akan membuat siswa menjadi enggan kembali ke jalan yang benar. Sekolah sebaiknya melakukan pendekatan personal kepada siswa. Pemberlakuan mekanisme punishment yang memojokkan siswa tidak akan berhasil merubah kepribadian siswa. Perlakuan yang salah kepada siswa hanya akan membawa pada masalah-masalah baru di masa depan. Penting bagi sekolah untuk terus berkoordinasi dengan orang tua siswa dalam memantau dan membina perkembangan siswa. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pembinaan demi kebaikan dan masa depan siswa.
::: Penulis adalah Ketua OSIS MAN 1 Wates Periode 2009/2010 :::
PEMBATALAN HASIL PEMILU 1991 DAN DAMPAKNYA TERHADAP TERCIPTANYA KONFLIK
BERSENJATA DI ALJAZAIR
-
Eldhianto Maulana Jusuf 07/254148/SP/22202 M Reza Zafiruddin S.
08/265267/SP/22667 Muhamad Rizki Akbar 09/282584/SP/23517 Nadya Primahafni
A 09/280412/SP/2...
15 tahun yang lalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar